oleh

Sosio-Puasa | Hari -10/11 : BEDA RAKAAT, SATU BERKAT

Fenomena ini bukan sekadar perdebatan teknis jumlah sujud, melainkan cermin dari dinamika pemikiran umat Islam di Maluku Utara dalam merespons arus modernitas dan puritanisme agama.

Akar Tradisi dan Hegemoni 23 Rakaat

Secara historis, masyarakat Maluku Utara adalah penjaga gawang tradisi Syafi’iyah yang sangat kuat.

Format 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir) telah menjadi standar baku selama berabad-abad, selaras dengan protokoler keagamaan di Kesultanan (Kie Raha).

Baca Juga  Sosio- Puasa | Hari -13/14 : MENJAHIT PULAU DENGAN CAHAYA SINYAL

Bagi masyarakat tradisional, 23 rakaat adalah simbol ketaatan pada ijma (konsensus) ulama terdahulu dan manifestasi dari semangat “memaksimalkan” ibadah di bulan suci.

Di masjid-masjid tua dan pusat-pusat adat, jumlah ini dianggap sebagai identitas kultural.

Mengurangi rakaat bagi sebagian orang tua di sana, sempat dianggap sebagai “pengurangan” terhadap nilai keberkahan yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-19/20 : MENABUH SUNYI, MERAJUT SOLIDARITAS

–000–

Arus Perubahan: Efisiensi dan Autentisitas

Namun, dalam dua dekade terakhir, lanskap ini mulai berubah. Munculnya format 11 rakaat di Maluku Utara didorong oleh dua faktor utama: akademis-teologis dan sosiologis-urban.

Pendekatan Tekstual:

Melalui institusi pendidikan dan gerakan dakwah modernis, narasi mengenai hadis riwayat Aisyah r.a. tentang 11 rakaat Nabi Muhammad SAW mulai meresap.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari ke-1/2 : KEMBALINYA TUHAN Di RUANG PUBLIK

Masyarakat kelas menengah dan intelektual muda di Maluku Utara mulai melihat 11 rakaat sebagai bentuk “kembali ke asalnya” (purifikasi).

Ritme Kehidupan Modern:

Di pusat-pusat pertumbuhan seperti Tobelo atau Sofifi, mobilitas warga semakin tinggi.

Bagi mereka yang bekerja di sektor publik atau jasa, 11 rakaat menawarkan durasi yang lebih terukur tanpa menghilangkan esensi ibadah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *