Oleh : M.Guntur Alting
Di panggung aula, di bawah spanduk megah. Anak-anak yatim berbaris, seragam baru nan kaku. Mata mereka ke jendela sunyi yang tak terucap, Menatap lurus, entah pada siapa, entah pada apa.
Di tangan-tangan kecil, amplop putih tersemat,
bukan sekadar uang, tapi harga diri yang tercatat. Dalam bingkai foto, di media, di benak publik yang haus validasi.
Mereka bukan jiwa, mereka adalah simbol, komoditas.Dijual dan dibeli, dalam seremoni kepedulian yang formalitas. Sorot kamera memburu, menangkap setiap sudut,dari senyum dipaksakan, hingga tatapan sendu yang tersembunyi.
Para pemberi, berdiri tegak, memamerkan kebaikan, seolah kedermawanan adalah jubah yang harus dipamerkan. Anak-anak ini, objek dari sebuah narasi yang digubah, di mana kemiskinan dan kehilangan menjadi latar belakang.
Bagi ego yang haus panggung, bagi reputasi yang perlu diangkat. Bukankah empati seharusnya lebih dari sekadar tontonan?
Bukanlah kasih itu seharusnya berbisik, tak perlu teriakan? Lalu, apa yang tersisa setelah lampu padam, setelah bingkisan dibagi?
Sebuah memori buram, mungkin, sebuah janji yang tak terucap.
Anak-anak itu kembali ke rumah, ke gang-gang yang tak direkam. Dengan martabat yang sedikit terkikis oleh tatapan berjuta mata.
Mereka adalah yatim, ya, tapi bukan berarti tanpa harga. Kemanusiaan sejati, bukan pada berapa banyak yang diberi. Tapi bagaimana cara memberi, tanpa harus mengikis harkat.
Mungkin saatnya kita merenung, di balik tabir pameran ini. Apakah kita sungguh memberi, atau sekadar membeli ilusi?
–000–
Dalam lanskap sosial Indonesia, ritual santunan anak yatim telah menjadi fenomena yang ajeg.







Komentar