oleh

Sosio-Puasa | Hari-19/20 : PARADOKS NIAT

Oleh : M.Guntur Alting

Di riuh grup percakapan, jemari menari di atas layar yang dingin, memantik debat tentang “sekerat niat” yang kini sering dipamerkan.

“Apakah pahala menguap bersama unggahan di media sosial?”

Tanya seorang kawan, sebab ikhlas kini sering kali terselip di antara filter dan takarir yang menawan.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-7/8 : DAN SAF ITUPUN MAJU

Kita lupa, bahwa ikhlas adalah sepi yang riuh di hadapan Tuhan. Seperti kata Al-Qusyairi: “ia adalah pembersihan amal dari komentar insan.”

Di sana, ego seharusnya luruh dalam palung penyerahan yang paling dalam, bukan justru bersolek meminta validasi di tengah malam yang kelam.

Namun ikhlas yang sejati adalah sebentuk “amnesia yang suci,” di mana tangan kanan memberi, namun hati sendiri tak lagi mengenali.

Baca Juga  Sosio - Puasa 14/15 : PUASA DAlAM DEKAPAN MASYARAKAT RISIKO

Ia telah menjadi “habitus,” gerakan spontan tanpa kalkulasi atau pretensi, melampaui jeratan “Mauvaise Foi” atau itikad buruk yang menjebak diri.

Seperti filosofi lokal wisdom kita, dalam bentuk sebuah janji : “menjadi buta dan tuli dari riuh pujian dunia yang fana dan silih berganti.”

Sebab saat bibir berucap “aku ikhlas”, di sana ego masih bersembunyi, menunggu upah pengakuan di balik topeng kesalehan yang sunyi.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari-9/10 : 23 RAKAAT YANG MELURUH

–000–

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *