oleh

Sosio-Puasa | Hari-19/20 : PARADOKS NIAT

Yakni, sebuah kondisi “melupakan diri” di mana tindakan lahir secara murni, tanpa beban masa lalu maupun ekspektasi masa depan.

Seseorang yang benar-benar ikhlas memberi lalu melupakannya, seolah-olah tindakan itu adalah fungsi organis tubuh yang natural.

Bahkan, pernyataan verbal seperti “Saya ikhlas” secara teoretis masih menyimpan residu harapan akan pengakuan.

Baca Juga  Rubrik Sosio - Puasa : AMBANG SUCI : ETNOGRAFI KEDATANGAN RAMADHAN

–000–

Akhirnya ikhlas yang paripurna adalah sebuah peluruhan ego di mana subjek pelaku “menghilang” ke dalam tindakannya.

Sebagaimana prinsip” Innamal a’mālu bin niyyāt ” arsitektur niat adalah penentu nilai absolut sebuah amal.

Tanpa kemurnian niat, amal semegah apa pun secara visual akan mengalami “kematian makna” di hadapan Yang Transenden.

Kearifan lokal kita menyebut, menjadi “buta dan tuli” dalam menabur kebajikan. Ini adalah bentuk “Indiferensi Stoik” terhadap fluktuasi duniawi. Sebuah keteguhan untuk tetap melangkah di jalan kebaikan tanpa perlu menoleh pada bayang-bayang apresiasi manusia.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari-16/17 : SUJUD DI BAWAH LANGIT YANG MEMBARA

Pada akhirnya, berlatih ikhlas adalah upaya untuk kembali ke titik nol—menjadi sunyi di tengah keramaian, dan tetap memberi meski dunia tak pernah tahu siapa yang mengulurkan tangan. (***)

Cinere, 9 Maret 2026
Pukul : 20.15

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *