Oleh : M.Guntur Alting
Di terminal keberangkatan yang temaram, aroma minyak gosok bercampur dengan kecemasan yang menggantung di udara.
Di atas deretan kursi besi, sepasang jemaah lansia saling menggenggam tangan.
“Pak, apa anak-anak di rumah sudah tahu kalau pesawat kita batal?” bisik sang istri, suaranya bergetar menahan tangis.
Sang suami hanya mengangguk pelan, meski matanya tak lepas dari jendela besar yang menampilkan kilatan cahaya di kejauhan—bukan petir, melainkan intersepsi rudal yang membelah malam.
“Sudah, Bu. Doakan saja, tanah ini suci, Tuhan tak akan membiarkan tamu-Nya terlunta-lunta.”
Dialog-dialog pendek seperti itu menjalar di antara barisan jemaah; sebuah upaya kolektif untuk menambal keberanian yang mulai bocor oleh ketidakpastian.
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di dalam ruang kendali maskapai yang kedap suara, suasana justru meledak dalam frekuensi yang berbeda. Cahaya biru dari monitor radar memantulkan wajah-wajah tegang para petugas operasional.
“Sektor empat ditutup total! NOTAM baru saja keluar, tidak ada celah untuk evakuasi dalam enam jam ke depan!” teriak seorang manajer operasi sambil menunjuk titik-titik merah yang memenuhi peta digital.
Telepon berdering tanpa henti, koordinasi dengan otoritas militer dan kedutaan besar menjadi perlombaan melawan waktu. Di atas meja, tumpukan manifes jemaah bukan lagi sekadar daftar nama, melainkan beban moral yang berat.
Setiap keputusan untuk menunda bukan hanya soal kerugian jutaan dolar, tapi soal nyawa ribuan manusia yang sedang menengadah ke langit, menanti keajaiban di tengah kepungan besi dan api.
–000–







Komentar