oleh

Nuzulul Quran: Algoritma Iqra dalam Menangkal Disrupsi Post-Truth dengan Epistimologi Wahyu.

Dewasa ini, kebenaran sering kali tenggelam di antara opini, emosi, dan propaganda digital. Fenomena yang dikenal sebagai Post-truth membuat masyarakat lebih mudah mempercayai narasi yang menyentuh perasaan daripada fakta yang terverifikasi. Peradaban manusia berada pada persimpangan jalan yang ganjil, hal ini seirama dengan fenomena post-truth (pasca Kebenaran) yang lebih berkuasa daripada fakta objektif.

Baca Juga  Amerika Makin Terkunci

Peringatan Nuzulul Quran bukan hanya sekedar sebagai ritual ataupun seremoni tahunan pada bulan ramadhan, melainkan sebagai Kompas Epistemologi dalam menyelamatkan manusia dari kesesatan berpikir.Peristiwa Nuzulul Quran (turunnya Al-quran) bukan berarti turunnya Al-quran secara fisik, namun proses pentransferan wahyu (Pengetahuan) ke alam nyata (Kesadaran Manusia) yang merupakan fenomena yang revolusioner dalam membebaskan umat manusia dari kebodohan.

Baca Juga  Spiritual Sebagai Benteng Pertahanan Dari Gerusan Jaman Yang Semakin Besar dan Dakhsyat Gelombang Pasang

Kata kunci pertama yang turun bukanlah perintah untuk menyembah secara ritual, melainkan perintah “Iqra” (Bacalah) Hal ini sudah jelas bahwa ini algoritma verifikasi yang dengan jelas merupakan perintah untuk melakukan observasi, riset ataupun hal-hal bersifat ilmiah.

Menurut prof Qurais Shibab, beliau menekankan bahwa iqra memiliki makna lebih luas seperti menelaah, meneiti, memahami alam semesta serta situasi dan kondisi. Hal ini menegaskan betapa pentingnya sebagai muslim dalam menelaah informasi agar tidak konsumtif, diera disrupsi juga, makna Iqra sebagai filter dalam menelaah dan menguji suatu kebenaran dalam informasi yang diakses ataupun didapatkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *