Agus Mustofa, fisikawan indonesia, memaparkan bagaimana keselarasan Al-quran dengan fenomena alam, dimana peristiwa Nuzulul Quran sendiri sebagai sebuah jembatan yang menghantarkan kebenaran dari langit kedalam bentuk fakta yang berbasis penelitian dan riset yang di uji. Sederhananya, Quran perintahkan untuk memeplajari pengetahuan (sains dan teknologi) agar tidak termakan dengan informasi palsu yang di konsumsi secara bebas. Seperti sebuah eksperimen saintifik yang dilakukan diantaranya : observasi alam, mengukur faktual, menganalisis data, lalu di evaluasi untuk mengetahui tingkat keakuratan tersebut.
Keluar dari belenggu echo chamber
dalam kondisi seperti ini, kadangkala sering terjebak dalam filter bubble (gelembung informasi) yang terpersonalisasi, sebuah ruang gema yang hanya mempertemukan kita dengan orang-orang yang sepemdapat. Sehingga sikap keangkuhan dan mudah menyalahkan lawan pendapatnya (sentimen negatif). Padahal semangat nuzulul quran justru mendorong agar manusia untuk kembali membaca realitas dengan menyeluruh, ini adalah sebuah dorongan kuat agar manusia dapat keluar dari sebuah penjara “fanatisme buta” dan bergerak menuju pada sebuah kebenaran universal, inklusif, dan objektif.
Dengan “Iqra” juga, sebagai bentuk simpulan bahwa di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat dan lajunya informasi yang begitu cepat, kita tidak boleh membiarkan nalar kalah oleh algoritma mesin yang pada dasarnya diciptakan oleh manusia, yang dirancang untuk memanipulasi emosi demi sebuah keuntungan komesil. Kita harus kembali pada semangat awal wahyu yang pada konteksnya untuk dibaca dengan teliti dan diverifikasi dengan jujur (tabayyun).
Sebagaimana pula yang ditegaskan oleh prof mulyadi kartanegara, perintah “iqra” sebagai fondasi ilmu yang mengintegrasikan Al-Quran dan alam semesta. Dapat dikontekskan Perkembangan informasi yang cepat, mulai dari big data sampai algoritma rekomendasi—dan AI generatif menciptakan lingkungan di mana emosi dan cerita palsu (deepfake, hoaks) menjadi dominan, menggantikan objektivitas yang berdasarkan pengalaman seperti pada masa Jahiliyah sebelum wahyu. beliau menempatkan “Iqra” sebagai panduan adaptif: untuk mengecek data secara langsung dari sensor IoT atau simulasi AI, untuk mengurai bias algoritma dengan logika deduktif, dan intuisi tauhid yang menolak pandangan sekuler yang sederhana. Turunnya Quran secara bertahap (munajjaman) mirip proses pembelajaran mesin berdasarkan wahyu, di mana umat “membaca” alam digital sebagai bukti keesaan, sehingga menghasilkan keyakinan rasional yang berbeda dengan keyakinan emosional di era post-truth.






Komentar