oleh

Esai |Jejak Batin : MEMBASUH JIWA ANTARA GAMALAMA DAN LIMAU DUKO

Oleh : M.Guntur Alting


Tiba–tiba saja, muncul suatu tarikan primordial yang purba dalam diri saya, akan kenangan dan getaran batin saat mejalani Ramadan di Kota Ternate dan Tidore, dua tahun silam.

Berada di dua kota ini di bulan puasa, bukan sekedar pergantian waktu makan. Melainkan sebuah “simfoni spiritual” yang melibatkan alam, sejarah, dan kedalaman batin pelakunya.

Baca Juga  LONCENG KEMATIAN DI LANGIT TEHERAN

Di sini, suasana puasa dimulai dengan dialog sunyi antara manusia dengan “dua raksasa vulkanik” yang menjaga mereka: Gamalama di Ternate dan Limau Duko-Kie Matubu di Tidore.

–000–

Gejolak Batin di Balik Kabut Gamalama

Di Ternate, suasana batin pada fajar pertama sering kali dipenuhi oleh rasa takzim. Kota yang tumbuh di kaki gunung api aktif ini mendidik warganya untuk memiliki kesadaran akan kefanaan.

Baca Juga  In Memoriam: Jenderal Try Sutrisno KESETIAAN DALAM SENYAP

Saat sahur pertama usai dan suara azan subuh menggema dari masjid-masjid tua di pesisir, ada getar halus di dada setiap Muslim.

Rasa syukur karena “masih diberi kesempatan” bertemu Ramadan, bercampur dengan sedikit kecemasan—sebuah refleksi diri apakah ibadah tahun ini, akan mampu mendinginkan gejolak nafsu di dalam diri, sebagaimana dinginnya kabut yang menyelimuti puncak Gamalama di pagi hari.

Baca Juga  Spiritual Sebagai Benteng Pertahanan Dari Gerusan Jaman Yang Semakin Besar dan Dakhsyat Gelombang Pasang

Batin orang Ternate di hari pertama cenderung lebih “terjaga”. Ada semacam disiplin kultural yang tak tertulis; kita seolah kembali ke identitas asli sebagai bangsa yang menjunjung tinggi adat yang bersendikan syara.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *