oleh

NAKHODA BARU DAN ESTAFET INTELEKTUAL

Membaca Arah UMMU di Tangan Prof.Dr.Ranita Rope, M.Sc

Oleh : M.Guntur Alting

Terpilihnya Profesor Ranita, sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), adalah sebuah momentum krusial yang menandai babak baru bagi wajah pendidikan tinggi di Maluku Utara.

Sebagai salah satu kampus swasta terbesar di wilayah Maluku Utara, setiap gerak UMMU akan menjadi tolok ukur bagi kemajuan intelektual di daerah ini.

Secara simbolis, keterpilihan Prof. Ranita merupakan sebuah pencapaian sosiologis yang penting.

Baca Juga  NARASI PERANG AGAMA MELAWAN IRAN

Di tengah struktur kepemimpinan yang sering kali didominasi oleh figur maskulin, kehadiran seorang profesor perempuan di pucuk pimpinan universitas memberikan pesan inklusivitas yang kuat.

Ini membuktikan bahwa Muhammadiyah, sebagai organisasi yang menaunginya, tetap konsisten pada jalur meritokrasi: “bahwa kepemimpinan adalah hak bagi mereka yang memiliki kapasitas intelektual dan integritas moral, tanpa memandang gender.”

–000–

Namun, di balik selebrasi tersebut, Prof. Ranita dihadapkan pada realitas tantangan yang kompleks.

Baca Juga  ZAKAT DALAM JENDELA SOSIOLOGI -- ‎Antara Kewajiban Langit dan Keadilan Bumi

Pertama, adalah relevansi akademik.

Di era disrupsi digital, universitas tidak lagi bisa menjadi institusi yang eksklusif dan kaku.

Beliau memikul tanggung jawab untuk memastikan kurikulum UMMU mampu menjawab kebutuhan pasar kerja yang terus berubah, tanpa kehilangan esensi kemanusiaan.

Penekanan pada riset yang berbasis pada potensi lokal—seperti isu kelautan, pertambangan yang berkelanjutan, dan penguatan ekonomi kreatif di Maluku Utara—harus menjadi prioritas agar kampus benar-benar menjadi solusi bagi persoalan daerah.

Baca Juga  MENEMUKAN CAHAYA DALAM NUANSA BENING

Kedua, terletak pada akreditasi dan daya saing.

Sebagai seorang Profesor, beliau membawa ekspektasi tinggi terkait peningkatan standar mutu internal.

Di bawah kepemimpinannya, peningkatan jumlah doktor dan publikasi ilmiah internasional bukan lagi sekadar target di atas kertas, melainkan sebuah kebutuhan untuk mengangkat martabat UMMU di kancah nasional maupun global.

Ketiga, yaling fundamental, adalah menjaga marwah ideologis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *