oleh

Filsafat, Budaya Hingga Tradisi dan Adat Istiadat Dalam Spiritualitas Yang Maha Luas

By.Jacob Ereste 

Spiritualitas itu bersemayam di dalam batin dan hati yang maha luas tidak terbatas, sementara intelektualitas mendekam di dalam batok kepala yang terbatas daya jangkaunya. Karena itu peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW hanya dipahami oleh kecerdasan spiritual, tidak dapat dipahami secara intelektual dan nalar sehebat apapun. Kendati melalui ilmu dan pengetahuan yang terbiak di otak, jarak tempuh Sidratul Muntaha di langit ke tujuh itu dari Mekkah dan Madinah dapat dihitung secara matematis dalam kalkulasi kecepatan cahaya, sehingga harus ditempuh dalam waktu sekian tahun lamanya dengan pesawat yang mampu melesat 15 kali kecepatan cahaya.

Baca Juga  Opini: “Operasi Kodok” dan Bahaya Menyurutnya Partisipasi Publik dalam Pembangunan

Ilustrasi ini menggambarkan bahwa ilmu filsafat pun sebagai biang dari segala ilmu yang bisa me-logika-kan serpihan-serpihan spiritual yang bertaburan seperti galaxy penghias jagat raya yang begitu sempurna sebagai ciptaan Tuhan. Tiga tiang penyangga filsafat yang acap disebut radikal karena filsafat akan terus bertanya tentang sebab dan akibat berikutnya, seperti hendak mencecar segala sesuatu sampai ke ujung langit.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *