- Jejak Dialektika Shalat Tarawih di Bumi Para Sultan
Oleh: M.Guntur Alting
Kemarin malam, pukul 12.10 waktu Jakarta, sebuah notifikasi WatshAp masuk dari Bos Pemred Pikiran Ummat, Pak Usman Sergie.
“Pak Guntur, tolong tulis juga dong tentang Kontestasi 23 dan 11 rakaat di Maluku Utara !”–Demikian yang terbaca di layar handphone.
Saya sempat tertegun.
“Andaikata saja bisa ya..” jawab saya singkat. “Tapi saya akan coba Pak Us ” lanjut saya. Maka lahirlah esai ini. Mari simak narasinya.
Dahulu, dua puluh tiga rakaat adalah pagar yang tak boleh retak.
Ia adalah sebuah nafas panjang. Di mana dahi menyentuh lantai dingin berkali-kali, menjemput berkah yang diyakini mengalir dari silsilah para wali.
Namun waktu adalah penenun yang tak pernah lelah. Di Ternate, di Sofifi, hingga pesisir Halmahera yang jauh.
Lampu-lampu kota mulai menyala lebih terang dari lampu minyak. Generasi baru datang membawa kitab dan tanya.Tentang sebelas rakaat yang konon lebih dekat ke asal muasal.
Tentang “thumaninah” yang dicari di sela hiruk pikuk pekerjaan. Tentang efisiensi bagi raga yang esok harus kembali melaut atau beradu di meja birokrasi.
Dulu, perbedaan ini adalah badai dalam tempurung. Lidah tajam saling menghujat di mimbar-mimbar.
“Kurang rakaat, kurang berkat!” seru yang tua.
“Kembali ke sunnah!” jawab yang muda dengan mata berpendar.
Namun di Bumi Al-Mulk, kebijaksanaan setua pohon cengkih. Perlahan, ego meluruh bersama azan yang membelah malam.
Tak ada telunjuk yang menuding, tak ada mata yang sinis. Sebab mereka tahu, di atas tanah para raja ini.Tuhan tidak sedang menghitung angka. Melainkan menimbang ketulusan.
–000–
Ramadan di Maluku Utara selalu memiliki aroma khas; perpaduan antara religiusitas yang kental dan penghormatan terhadap tradisi Kesultanan yang luhur.
Namun, di balik kekhusyuan syiar di masjid-masjid Ternate, Tidore, hingga Halmahera.Terdapat sebuah fenomena “sosioreligius” yang menarik untuk ditelaah: pergeseran perlahan namun pasti dari format salat Tarawih 23 rakaat menuju 11 rakaat.







Komentar