oleh

Sosio-Puasa |Hari ke-2/3 : PEGERAS SUARA DAN NEGOSIASI EKOSISTEM RAMADHAN

Sebuah Kontestasi Akustik di Ruang Publik

Oleh: M.Guntur Alting

Di atas menara yang membelah cakrawala.
Corong-corong besi itu mulai menumpahkan gema ke atap-atap seng dan jendela kaca
yang angkuh.

Di ruang tamu, seorang ibu menimang cemas
bayinya baru saja memejamkan mata yang sendu.

Namun di luar, suara tadarus meliuk deras
menembus ventilasi, merobek hening yang temaram

“Ini syiar,”–Ujar pengurus mushala dengan tegas.

“Ini hak kami,”–Gumam penghuni rumah dengan napas yang berat.

Kita terjebak dalam kotak penalti akustik.
Di mana kesalehan kadang diukur dari kencangnya suara yang naik. Seolah Tuhan hanya mendengar yang paling pekik.

Baca Juga  SEBUAH MANIFESTO UNTUK RUBRIK SOSIO-PUASA

Padahal di gang sebelah, ada doa yang lebih lirih dan sahdu. Dari seorang buruh yang butuh tidur sejenak saja, sebelum fajar memanggilnya kembali bekerja.

Lalu negosiasi lahir di pesan group Watshap,
tentang volume yang harus turun, yang lebih santun menuntun.

Di sinilah sosiologi menuliskan sabdanya.
Bahwa “ruang publik bukan milik satu golongan. Melainkan milik semua yang penuh keragaman .”

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Malam itu, suara itu mengecil, tapi maknanya meluas. Ia tak lagi menerjang, tapi mengelus dada yang lapang.

Di antara kabel dan menara, kita belajar satu hal “Menjadi manusia adalah pandai mendengar yang tak vokal.”

–000–

Saya tiba-tiba teringat pada senior saya Abang Anwar Husen. Dalam sebuah momen, kami terlibat diskusi tentang “pro-kontra” penggunaan pengeras suara di tengah perkampungan atau kompleks yang padat warga.

Tentu saya tidak detil menceritakan dinamika diskusi kami, karena ada bagian yang sensitif, dan tentu tidak memungkinkan di ruang yang terbatas ini.

Baca Juga  Sosio - Puasa 14/15 : PUASA DAlAM DEKAPAN MASYARAKAT RISIKO

Saya hanya ingat ketika dengan kelakar saya bertanya ” Pernahkah Abang membaca artikel yang berjudul “Ketika Toa Masjid Meneror Umat? “–Sang senior ini hanya terkekeh..dan saya tentu paham makna dibalik itu.

Saya lanjutkan, itu sebenarnya uangkapan metafora Yusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Ketika rame-ramenya saat itu ribut soal edaran dari kementrian Agama tentang pengaturan alat pengeras suara di tempat ibadah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *