Sebuah Catatan dari “Simfoni Ramadan”
Maher Zain
Oleh : M.Guntur Alting
ADA sebuah resonansi yang lahir bukan dari menara mesjid, melainkan dari dawai-dawai peradaban digital.
Itulah “Simfoni Ramadan” milik Maher Zain. Sebuah fenomena yang dalam kacamata intelektual bukan sekadar deretan nada.
Melainkan sebuah jembatan estetis yang menghubungkan sujud di atas sajadah dengan dinamika dunia yang berlari kencang.
Sudah lama saya ingin menulis tentang Maher Zain, satu hal yang menjadi alasan kuat, karena lagu Ramadan tetap awet dan tidak lekang tergerus sang waktu.
Lagu ini dirilis secara global pada 29 Juni 2013, oleh Awakening Music. Tersedia dalam versi Inggris, Arab, dan Indonesia, dan dipopulerkan melalui kanal “YouTube” resmi Maher Zain, dan selalu menjadi lagu religi paling populer saat bulan suci tiba.
Dengn kata lain, lagu ini telah bertahan 13 tahun lamanya, terhitung sejak diliris untuk pertama kalinya.
-000-
Sosok Maher Zain, ketika bernyanyi, ia tidak sedang bernyanyi dalam hampa. Ia adalah seorang arsitek bunyi yang melakukan negosiasi antara dua dunia.
Di satu sisi, ia membawa warisan “Maqam Timur Tengah” yang meliuk-liuk, sebuah silsilah nada yang membawa memori padang pasir dan kerinduan pada Sang Khalik.
Di sisi lain, ia membalutnya dengan kemegahan orkestra Barat dan denyut R&B yang modern.
Ini adalah sebuah hibriditas budaya; sebuah bukti bahwa spiritualitas tidak harus terdengar purba untuk dianggap sakral.
Dalam setiap ketukan drumnya, ada detak jantung muslim urban yang mencoba menemukan rumah di tengah riuhnya globalisasi.
Secara psikologis, musik ini bekerja layaknya sauh bagi jiwa. Jika Ramadan adalah jeda dari hiruk-pikuk materi, maka melodi Maher Zain adalah pemandu emosinya.







Komentar