Oleh : Mukhtar Adam, Om Pala Melanesia
Ada jenis kepemimpinan yang sengaja tidak menempatkan diri di pusat sorotan. Ia tidak menagih pengakuan publik setiap hari, tidak mengubah kerja administratif menjadi tontonan yang selalu tampil medsos, dan tidak merasa perlu menjadikan dirinya figur utama dalam setiap capaian kinerja pembangunan. Kepemimpinan semacam ini bekerja dari gerak kolektif, bukan dari penegasan ego personal. Di Kota Ternate, dalam satu tahun perjalanan kepemimpinan kita melihat fenomena itu, sebagai pelayan warga kota, tak banyak tampil di medsos tetapi hadir diberbagai kebutuhan layanan kota, yang seolah menegaskan kerja dalam diam
Pilihan ini bukan tanpa risiko, karena dalam ekosistem politik yang semakin ditentukan oleh algoritma media sosial, pemimpin yang tidak tampil personal sering dianggap “tidak bekerja”, justru, justru di situlah letak paradoksnya, pemimpin yang selalu menjual personalnya sesungguhnya lagi menyembunyikan duri pembangunan, dan kepemimpinan yang diam justru paling efektif menerjemahkan kebutuhan public dalam layanan
Dalam khazanah budaya Maluku Utara, dikenal etos Babari, sebuah semangat gotong royong yang menempatkan kerja bersama di atas keunggulan individu. Babari bukan sekadar kerja bakti, melainkan etos social, dari perubahan hanya mungkin terjadi jika dikerjakan bersama, dengan rasa memiliki yang kolektif.






Komentar