Model ini sejalan dengan prinsip good government, yang menempatkan negara bukan sebagai aktor tunggal, tetapi sebagai fasilitator gerak sosial. Pemimpin dalam model ini tidak mendominasi ruang publik dengan narasi “saya”, melainkan menciptakan ruang agar masyarakat dapat mengatakan “kita”.
Tauhid Soleman tampak membaca etos ini dengan tepat. Ia tidak membangun citra kepemimpinan dari personal branding, tetapi dari orkestrasi kebijakan, menggerakkan perangkat kota, kelurahan, pelaku usaha kecil, komunitas pulau, hingga rumah tangga paling bawah. Dalam bahasa warga kota, sering terdengar ungkapan sederhana namun tajam “Dia tidak banyak bicara, tapi hadi dalam layanan public, kota yang nyaman, indah, yang dibentuk dari perekatan social yang stabil dan berkesinambunag”
Kalimat ini mungkin tidak viral, tetapi lebih jujur dari keunggulan yang dipalsukan dalam media sosia’






Komentar