oleh

Sosio-Puasa | Hari ke-4/5 : GEMA LANGIT DI ALTAR MODERNITAS

Hal ini menciptakan perasaan “memiliki” bagi pendengar di Jakarta hingga Istanbul, memperkuat ikatan emosional kolektif sebagai satu umat.

Ritualitas Auditori

Dalam studi budaya, lagu ini telah menjadi bagian dari ritualitas modern.

Sebagaimana aroma takjil atau suara bedug, intro lagu “Ramadan” telah menjadi stimulus yang memicu otak untuk masuk ke dalam “mode spiritual”.

Maher Zain berhasil mengubah pesan agama yang biasanya bersifat instruktif menjadi sebuah narasi kerinduan yang puitis: “You lift me up high, you take me to the sky.”

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-19/20 : MENABUH SUNYI, MERAJUT SOLIDARITAS

–000-

Lagu “Ramadan” adalah bukti nyata bahwa seni dapat menjadi instrumen dakwah yang paling cair.

Ia tidak menceramah, tapi merangkul. Ia tidak mendikte, tapi mengajak jiwa untuk “pulang”.

Secara estetika, lagu ini telah menetapkan standar baru bagi musik religi dunia: “bahwa kesucian pesan harus dibalut dengan kesempurnaan produksi.”

Pada akhirnya, fenomena ini adalah sebuah manifestasi dari identitas muslim kontemporer.

Baca Juga  Sosio-Puasa |Hari ke-2/3 : PEGERAS SUARA DAN NEGOSIASI EKOSISTEM RAMADHAN

Musiknya menjadi bahasa ibu bagi jutaan manusia, yang dipisahkan oleh paspor dan bahasa. Namun disatukan oleh rasa yang sama di bulan suci.

Maher Zain telah menunjukkan bahwa di tangan seorang seniman yang bervisi, musik bukan sekadar hiburan; ia adalah instrumen sosiologis yang mampu merangkum kerumitan zaman ke dalam satu tarikan napas yang penuh syukur.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -10/11 : ANTARA PERUT DAN STATUS

Di sana, di antara denting piano dan doa yang terucap, kita menemukan bahwa iman dan modernitas bisa” berdansa” dalam satu simfoni yang indah. (***)

IMG_1995

Pejaten Barat, Sabtu 21 Februari 2026
Pukul : 22 : 45

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *