– Membaca Jejak Marx dan Weber pada Riuhnya Kuliner Ramadan Malut
Oleh: M.Guntur Alting
Ketika azan Magrib menggema dari menara Masjid Al-Munawwar hingga menyusup ke lorong-lorong sempit di Ternate
Sebuah ritual besar sedang berpindah dari ruang sujud ke atas meja makan.
Di balik kepulan uap Air Guraka dan legitnya Kue Pelita yang diburu ribuan warga di pasar kaget, tersaji sebuah drama sosiologis yang jauh lebih pelik dari sekadar urusan membatalkan lapar.
Fenomena “takjil” di kawasan Landmark hingga Swering bukan sekadar keriuhan musiman, melainkan cermin retak yang memantulkan bagaimana kelas sosial, identitas kultural, dan kapitalisme agama saling berkelindan di bawah bayang-bayang Gunung Gamalama.
Di sini, setiap suapan takjil adalah arena tarik-menarik antara “materialisme” Karl Marx yang komersial dan “etika status” Max Weber yang sarat makna.
–000–
Komodifikasi di Landmark :
Takjil dalam Cengkeraman Marx
Sepanjang trotoar Landmark hingga Pantai Falajawa, ribuan pedagang musiman menggelar dagangan.
Dalam kacamata Karl Marx, fenomena ini adalah bentuk nyata dari “Komodifikasi Religius”.
Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat interaksi sosial, saat Ramadan bertransformasi menjadi pasar raksasa yang transaksional.







Komentar