– Membaca Kelas Sosial Di Atas Meja Sahur
Oleh : M.Guntur Alting
Sahur sering kali dipahami sebagai ritus spiritual yang menyatukan umat dalam kesiapan menghadapi lapar dan dahaga.
Namun, di balik narasi kesetaraan tersebut, meja makan di waktu dini hari justru menjadi panggung yang paling jujur dalam mementaskan stratifikasi sosial.
Perbedaan menu sahur antara kelompok masyarakat kelas atas dan kelas bawah bukan sekadar perkara selera lidah, melainkan manifestasi dari ketimpangan akses terhadap kapital ekonomi dan literasi kesehatan.
Logika Nutrisi vs Logika Bertahan Hidup
Bagi kelompok masyarakat kelas atas (kaya), sahur telah bergeser dari sekadar aktivitas “makan agar kenyang” menjadi sebuah manajemen nutrisi yang presisi.
Di meja mereka, kita akan menemukan bahan pangan dengan densitas nutrisi tinggi namun memiliki indeks glikemik rendah.
Pilihan seperti rolled oats, potongan alpukat, protein tanpa lemak seperti salmon, hingga susu nabati, dipilih berdasarkan kesadaran ilmiah.
Tujuannya jelas: menjaga stabilitas kadar glukosa darah agar energi dilepaskan secara perlahan (slow−release).
Dengan asupan ini, tubuh tetap bugar untuk menunjang aktivitas kognitif di ruang-ruang berpendingin udara.
Di sini, sahur adalah investasi kesehatan jangka panjang.







Komentar