oleh

Sosio-Puasa | Hari 3/4 : DUA PIRING, DUA KASTA, SATU FAJAR YANG SAMA

Membaca Kelas Sosial Di Atas Meja Sahur

Oleh : M.Guntur Alting

Sahur sering kali dipahami sebagai ritus spiritual yang menyatukan umat dalam kesiapan menghadapi lapar dan dahaga.

Namun, di balik narasi kesetaraan tersebut, meja makan di waktu dini hari justru menjadi panggung yang paling jujur dalam mementaskan stratifikasi sosial.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -10/11 : BEDA RAKAAT, SATU BERKAT

Perbedaan menu sahur antara kelompok masyarakat kelas atas dan kelas bawah bukan sekadar perkara selera lidah, melainkan manifestasi dari ketimpangan akses terhadap kapital ekonomi dan literasi kesehatan.

Logika Nutrisi vs Logika Bertahan Hidup

Bagi kelompok masyarakat kelas atas (kaya), sahur telah bergeser dari sekadar aktivitas “makan agar kenyang” menjadi sebuah manajemen nutrisi yang presisi.

Baca Juga  SEBUAH MANIFESTO UNTUK RUBRIK SOSIO-PUASA

Di meja mereka, kita akan menemukan bahan pangan dengan densitas nutrisi tinggi namun memiliki indeks glikemik rendah.

Pilihan seperti rolled oats, potongan alpukat, protein tanpa lemak seperti salmon, hingga susu nabati, dipilih berdasarkan kesadaran ilmiah.

Tujuannya jelas: menjaga stabilitas kadar glukosa darah agar energi dilepaskan secara perlahan (slow−release).

Dengan asupan ini, tubuh tetap bugar untuk menunjang aktivitas kognitif di ruang-ruang berpendingin udara.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Di sini, sahur adalah investasi kesehatan jangka panjang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *