oleh

Sosio-Puasa | Hari 3/4 : DUA PIRING, DUA KASTA, SATU FAJAR YANG SAMA

Sebaliknya, bagi masyarakat kelas bawah (si miskin), sahur adalah kalkulasi bertahan hidup yang pragmatis.

Di atas meja mereka, karbohidrat sederhana menjadi raja. Nasi putih dalam porsi besar, mi instan, atau gorengan adalah pilihan paling rasional karena memberikan kalori maksimal dengan harga seminimal mungkin.

Logika yang digunakan adalah “kenyangkan perut secepat mungkin dengan biaya serendah mungkin.”

Baca Juga  Sosio-Puasa |Hari ke-2/3 : PEGERAS SUARA DAN NEGOSIASI EKOSISTEM RAMADHAN

Fenomena ini dalam ekonomi kesehatan sering disebut sebagai strategi pemenuhan energi murah, di mana kualitas gizi dikorbankan demi volume makanan agar rasa lapar tidak segera menyerang saat mereka harus melakukan kerja fisik yang menguras peluh.

Ketimpangan Akses dan “Food Divide”

Perbedaan ini diperparah oleh fenomena food divide atau sekat pangan. Masyarakat kelas atas memiliki kemewahan waktu dan akses untuk mendapatkan bahan pangan segar dan organik.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -10/11 : ANTARA PERUT DAN STATUS

Sementara itu, masyarakat kelas bawah sering kali terjebak dalam “gurun pangan” (food deserts) atau lingkungan yang hanya menyediakan makanan olahan tinggi natrium dan gula.

Teh manis hangat yang menjadi primadona di meja sahur sederhana adalah contoh nyata.

Bagi pekerja kasar, lonjakan gula instan adalah “bahan bakar” cepat untuk memulai hari.

Baca Juga  RUBRIK SOSIO — PUASA : MEMBACA DENYUT MASYARAKAT DALAM LENSA SOSIOLOGI-AGAMA

Namun, secara medis, asupan ini memicu lonjakan insulin yang disusul oleh penurunan kadar gula darah secara drastis (sugar crash).

Ironisnya, hal ini justru membuat mereka lebih cepat merasa lemas dan lapar di tengah hari, menciptakan siklus keletihan yang terus berulang.

Simbol Status di Balik Piring

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *