oleh

Sosio-Puasa | Hari 3/4 : DUA PIRING, DUA KASTA, SATU FAJAR YANG SAMA

Secara sosiologis, menu sahur juga berfungsi sebagai simbol status.

Kelas atas mengonsumsi makanan yang mencerminkan identitas sosial mereka sebagai kelompok yang “peduli kesehatan” dan “modern”.

Sementara itu, kesederhanaan menu kelas bawah sering kali dianggap sebagai bentuk ketawakalan, padahal di balik itu terdapat keterpaksaan struktural akibat daya beli yang rendah.

Baca Juga  RUBRIK SOSIO — PUASA : MEMBACA DENYUT MASYARAKAT DALAM LENSA SOSIOLOGI-AGAMA

–000-

Akhirnya, meskipun puasa secara teologis bertujuan untuk merasakan penderitaan mereka yang lapar, realitas di meja sahur menunjukkan bahwa titik start setiap orang tidaklah sama.

Ketimpangan asupan nutrisi ini pada akhirnya berdampak pada produktivitas dan kualitas kesehatan jangka panjang.

Meja makan sahur bukan hanya tempat untuk mengisi perut, melainkan sebuah cermin retak yang memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara mereka yang makan untuk hidup berkualitas, dan mereka yang makan sekadar agar bisa terus bekerja esok hari. (***)

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Cinere 20 Februari 2026

REFERENSI :

Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste –Pukisierre Bourdieu

Distingsi: Kritik Sosial atas Pertimbangan Selera”.

Penerbit :Yayasan Obor Indonesia), cetakan tahun 2011.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *