-Desekularisasi di Ranah Sosial Melalui Puasa
Oleh : M.Guntur Alting.
Sejak fajar Ramadan menyingsing, ada yang berbeda dari ruang publik dan cara kota-kota kita bernapas.
Kantor-kantor pemerintahan yang biasanya bising oleh denting sendok di kantin, mendadak senyap.
Restoran-restoran di pinggir pelabuhan memasang tirai, atau bahkan memilih tutup sama sekali.
Secara sosiologis, kita sedang menyaksikan fenomena “Desekularisasi Ruang Publik.”
Maksudnya? Dalam kehidupan normal, ruang publik seperti kantor, pasar, dan jalan raya. biasanya bersifat sekuler atau netral dari simbol agama.
–000-
Namun, selama Ramadan, ruang-ruang ini “diduduki” oleh nilai-nilai religius. Agama tidak lagi bersembunyi di dalam masjid atau di balik dinding rumah; ia tumpah ke jalanan.
Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sosiolog Peter L. Berger sebagai “Sacred Canopy” atau Langit-Langit Suci.
Dimana seluruh masyarakat, termasuk mereka yang mungkin sedang tidak berpuasa atau berbeda keyakinan, ikut berteduh di bawah aturan main yang sama.
Ada kesepakatan sosial tak tertulis yang mendadak berlaku. Volume musik di tempat umum dikecilkan, jam kerja dipangkas lebih awal, dan tutur kata menjadi lebih terjaga.







Komentar