Oleh : M.Guntur Alting
—
Di beranda masjid, dua lelaki tua duduk bersila, menatap langit yang perlahan menjingga.
Yang satu memegang tabel angka, hasil hitungan karsa. Yang satu memicingkan mata, mencari garis di ufuk sana.
Satu langit, satu bulan, namun dua keyakinan
Tentang kapan lapar harus dimulai, dan rindu harus dituntaskan.
“Angka tak pernah bohong,” bisik si ahli Hisab.”Bulan sudah di atas ufuk, meski mata tak sanggup menatap.”
Namun si penjaga Rukyat menggeleng pelan “Ibadah itu persaksian mata, bukan sekadar coretan.”
Maka esok, yang satu bersantap sahur dengan yakin.Sementara yang lain masih menunggu kabar dari pemimpin.
–000–
Semetara itu, di gedung tinggi, para petinggi duduk melingkar. Sidang Isbat digelar, penuh debat yang berpijar. Anggaran dikucur, teleskop canggih dipasang berjajar.
Namun di kantong masing-masing, keputusan sudah memijar.
Kita merayakan perbedaan sebagai “rahmat” yang dipaksakan. Padahal sosiologi berkata: ini hanyalah sekat ormas yang dipertahankan.
“Oh, Ramadan…
Kau datang untuk meruntuhkankan keakuan manusia. Namun kami menyambutmu dengan memamerkan “siapa kami”.
Memilih sains saat butuh jadwal salat yang presisi. Namun mendadak skeptis saat hilal menuntut kepastian posisi.
Kapan kita berhenti berpura-pura dalam harmoni yang retak? Dan mulai bersatu dalam satu kalender yang tegak.
Mungkin Tuhan sedang tersenyum di balik awan. Melihat hamba-Nya yang sibuk berdebat tentang “kapan”. Hingga lupa pada esensi “mengapa” puasa itu dijalankan.
Satu hari perbedaan, seribu tahun ego yang dipelihara.Di atas menara tradisi, kita masih saja buta.







Komentar