oleh

SATU LANGIT, DUA INTERPRETASI

–000–

Kalau kita peruncing analisis ini dengan menyoroti sisi sosiologis dan paradoks kebijakan publik yang menyertainya. Maka kita bisa lihat dari beberapa aspek :

Sekat Ormas dalam Bayang-Bayang Sidang Isbat

Masalah perbedaan awal Ramadan di Indonesia bukan lagi sekadar perdebatan teknis antara teleskop dan tabel logaritma.

Secara sosiologis, ini adalah manifestasi dari loyalitas pada identitas kelompok yang melampaui kepatuhan pada otoritas negara.

Baca Juga  Sosio-Puasa |Hari ke-2/3 : PEGERAS SUARA DAN NEGOSIASI EKOSISTEM RAMADHAN

Kita terjebak dalam sekat-sekat ormas yang begitu tebal, sehingga “kebenaran” tidak lagi dicari di langit, melainkan di stempel organisasi masing-masing.

Ada paradoks yang menggelitik dalam kebijakan publik kita.

Pemerintah setiap tahun menggelar Sidang Isbat dengan biaya yang tidak sedikit, mengundang pakar astronomi, perwakilan ormas, hingga duta besar negara sahabat.

Namun, pertanyaannya: Untuk apa sidang itu digelar jika sejak awal masing-masing pihak sudah membawa “keputusannya sendiri” di kantong baju mereka?

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-19/20 : MENABUH SUNYI, MERAJUT SOLIDARITAS

Sidang Isbat sering kali hanya menjadi panggung seremonial untuk melegitimasi perbedaan yang sudah diketahui seminggu sebelumnya.

Secara sosiologis, ini menciptakan fragmentasi di tingkat akar rumput:

Krisis Otoritas Negara

Negara seolah kehilangan taring sebagai ulil amri (pemimpin) yang ditaati.

Ketika ormas merasa memiliki mandat langit yang lebih tinggi dari mandat konstitusi, maka keteraturan publik menjadi taruhannya.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari - 18/19 : PULANG YANG TERTUNDA

Kesenjangan Kognitif

Kita melihat masyarakat yang menggunakan jam tangan digital (hasil hisab presisi) untuk menentukan waktu salat dan berbuka, namun mendadak menjadi skeptis terhadap ilmu astronomi yang sama ketika menentukan awal bulan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *