Di sini, Asida berfungsi sebagai “perekat” yang melampaui sekat-sekat ekonomi. Baik di meja makan seorang Sultan maupun di rumah petak nelayan, Asida hadir dengan rupa dan rasa yang sama, menciptakan perasaan senasib sepenanggungan sebagai sesama umat yang merayakan kemenangan.
–000–
Perlawanan terhadap Amnesia Budaya
Di era modernitas cair (liquid modernity), di mana tren kuliner global seperti “minuman kekinian” atau makanan cepat saji merangsek hingga ke pelosok kepulauan, bertahannya Asida adalah sebuah bentuk resistensi kebudayaan.
Masyarakat Maluku Utara seolah menolak untuk mengalami amnesia budaya.
Memilih Asida sebagai hidangan utama berbuka puasa adalah pernyataan identitas. Ada kebanggaan sosiologis yang tersirat: bahwa identitas “Muslim Maluku Utara” memiliki jangkar yang kuat pada sejarah panjangnya. Asida menjadi media di mana orang tua mewariskan cerita tentang asal-usul, tentang hubungan dengan bangsa Arab, dan tentang kejayaan rempah-rempah kepada generasi muda melalui indra perasa.
–000–
Akhirnya, Asida adalah fenomena sosiologis yang membuktikan bahwa makanan adalah bahasa komunikasi yang paling jujur. Ia bercerita tentang keterbukaan Maluku Utara terhadap dunia luar, namun sekaligus menegaskan kedaulatan budayanya.
Di balik legit dan harumnya Asida, tersimpan narasi tentang harmoni, sejarah, dan keteguhan sebuah bangsa kepulauan dalam merawat ingatan kolektifnya di meja makan.(***)
Pejaten, 2 Maret 2026
Pukul : 04.20













Komentar