- Dinamika Harga Pangan di Maluku Utara
Oleh : M.Guntur Alting
Di bawah bayang Gamalama yang tegak membisu,–Mama Nur berdiri, menggenggam plastik yang kusut.
Matanya nanar menatap tumpukan “rica” yang merah membara. Bukan karena pedasnya, tapi karena harganya yang naik kasta.
“Seratus ribu se-kilo,”
Bisik angin dari arah pelabuhan, menghantam telinga, meruntuhkan sisa harapan di kantong kain kusam.
Ramadan tiba membawa rindu pada aroma “Gohu”, namun meja makan kini riuh oleh hitungan yang keliru.
Bawang merah melompat, tomat ikut terbang tinggi, menyentuh langit-langit pasar yang mulai kecut.
Di Ternate, di Tidore, hingga ke pesisir Halmahera. Mama-mama merajut strategi, membagi rupiah dalam duka yang sama.
Kita kaya akan pala, kita tuan atas cengkih yang wangi. Namun untuk segenggam “rica”, kita masih menengadah ke seberang negeri.
Di Maluku Utara, doa-doa di selipkan di antara tawar-menawar. Meminta agar esok pagi, beban hidup tak lagi membuat nalar bergetar.
–000–
Di Ternate, matahari tak pernah sekadar terbit. Ia membakar aspal menuju Pasar Gamalama dengan kepastian yang angkuh.
Selain Mama Nur, Bibi Hafsah juga meremas selembar uang lima puluh ribu yang sudah lusuh di telapak tangannya. Baginya, uang itu kini lebih dari sekadar tiket untuk menonton pertunjukan harga-harga yang sedang “sakit jiwa”.
“Dulu kita berperang untuk pala dan cengkih, sekarang kita menyerah pada segenggam ” rica,” gumam seorang bapak di sudut pangkalan ojek Pasar Bastiong.
Kalimat itu bukan sekadar kelakar sinis. Maluku Utara, yang secara statistik nasional seringkali disebut sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi karena nikel, justru tampak rapuh di hadapan urusan perut.
Ada jurang yang menganga lebar: triliunan rupiah nikel dikeruk dari perut bumi Halmahera. Namun untuk urusan cabai dan bawang, rakyatnya masih harus menengadah ke kapal-kapal dari Manado dan Makassar.
–000–
Ramadan 1447 Hijriah kali ini terasa lebih “pedas” dari biasanya. Di saat baliho-baliho pejabat menebar senyum lebar dengan ucapan selamat ibadah, ibu-ibu di pasar justru sedang berperang dengan logika.
Bagaimana mungkin harga “rica” meroket hingga seratus ribu rupiah per kilo di sebuah daerah yang tanahnya konon begitu subur?
Operasi pasar dan “Gerakan Pangan Murah” yang digadang-gadang pemerintah daerah seringkali terasa seperti obat penenang sementara (plasebo).
Sementara antrean panjang mengular hanya untuk selisih harga beberapa ribu rupiah, yang habis tertelan biaya transportasi menuju lokasi pasar murah itu sendiri.
Ketergantungan pasokan adalah luka lama yang tak kunjung dijahit.
Ketika ombak di perairan Maluku meninggi, harga-harga di pasar ikut “mabuk laut”. Inilah ironi di Negeri Para Raja.
Kita memiliki kedaulatan atas laut yang luas, namun kedaulatan atas harga pangan di pasar tradisional kita sendiri seolah-olah digadaikan pada cuaca dan perantara.







Komentar