- Sebuah Dialektika Takwa dan Algoritma
Oleh : M.Guntur Alting
Di ruang hampa antara nol dan satu. Nasib kita dirajut oleh jempol yang gelisah.
Algoritma adalah nabi baru yang tak pernah tidur. Ia tahu apa yang kau benci sebelum kau marah. Ia tahu apa yang kau rindu sebelum kau terjaga.
Kita adalah baris kode dalam “database” raksasa. Disuapi konten yang membuat ego merasa berkuasa.
“Inilah duniamu, bisik layar yang berpendar blue-light. “Hanya yang kau sukai yang boleh melintas di sini.”
Maka fanatisme tumbuh subur di ladang “feedback loop,”.Dan kebenaran hanyalah apa yang paling banyak diklik.
Namun di kedalaman dada yang sunyi. Ada getaran yang tak bisa dibaca oleh “cookies”.
Takwa bukan tentang seberapa viral doamu,
Bukan tentang estetika sujud di kolom “feed” yang semu.
Takwa adalah kesadaran akan “Pengawas Utama, Yang pandangan-Nya menembus enkripsi paling rahasia. Ia adalah kemampuan untuk berkata “tidak” pada tren.Saat algoritma menggiringmu menuju lembah caci maki.
Ia adalah rasa takut yang menyelamatkan.
Agar jempolmu tak menjadi pedang yang menebas kehormatan. Maka, biarlah algoritma mengatur rute jalanmu.Tapi jangan biarkan ia mendikte rute hatimu.
Di akhir hari, saat layar dipadamkan..Bukan jumlah “follower” yang akan memberi kesaksian.
Hanya ketakwaan—titik cahaya yang tulus itu— Yang akan tetap menyala, saat semua server runtuh membatu.
Demikian sebuah puisi esai tentang taqwa dan algoritma.
–000–
Mari kita bedah lebih jauh dalam kacamata teori sosiologi dalam narasi berikut ini.







Komentar