Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk refleksi spiritual, bukan refleksi atas ketimpangan ekonomi yang kian menelanjangi ketidakberdayaan rakyat kecil di tengah hiruk-pikuk eksploitasi sumber daya alam.
–000-
Akar Masalah yang Berlapis
Kenaikan harga ini dipicu oleh simpul masalah yang kompleks :
Pertama: adalah ketergantungan pasokan.
Meskipun Maluku Utara kaya akan hasil laut dan rempah, sebagian besar kebutuhan sayur-mayur dan sembako masih didatangkan dari luar daerah, seperti Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
Rantai distribusi yang panjang ini, sangat rentan terhadap gangguan cuaca ekstrem di perairan Maluku yang kerap memaksa kapal-kapal logistik tertahan di dermaga.
Kedua, adanya disparitas harga antar wilayah.
Di daerah kepulauan yang lebih jauh, harga bisa melonjak dua kali lipat dibandingkan di pusat kota.
Infrastruktur logistik yang belum merata menjadikan biaya angkut sebagai beban tambahan yang akhirnya harus dibayar oleh konsumen akhir—rakyat kecil.
–000–
Dampak Sosial di Bulan Suci : Secara sosiologis.
Ramadan adalah waktu di mana konsumsi rumah tangga meningkat secara alami karena tradisi buka puasa bersama dan persiapan Idul-fitri.
Lonjakan harga menciptakan kontradiksi; di satu sisi masyarakat didorong untuk meningkatkan ibadah dan sedekah, namun di sisi lain mereka terhimpit oleh beban ekonomi yang kian berat.
Kekhawatiran publik kian memuncak ketika komoditas lokal yang seharusnya terjangkau justru ikut terkerek naik mengikuti arus inflasi nasional.
Hal ini memicu sentimen negatif terhadap pengawasan pasar. Masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas Satgas Pangan dan peran pemerintah daerah dalam melakukan intervensi pasar yang nyata, bukan sekadar seremonial “Gerakan Pangan Murah” yang jangkauannya seringkali terbatas.
.–000–
Merajut Kedaulatan di Tanah Rempah: Sebuah Jalan Keluar
Menyaksikan harga pangan yang melambung di pasar-pasar tradisional Maluku Utara setiap kali Ramadan tiba, adalah seperti melihat luka lama yang sengaja dibiarkan terbuka.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan baru menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa mereka hadir di tengah pasar.
Kita tahu penyebabnya, kita merasakan perihnya, namun selama ini kita hanya sibuk membalutnya dengan plester sementara.
Padahal, untuk menyembuhkannya, kita butuh keberanian untuk membedah masalah hingga ke akarnya.







Komentar