Oleh : M.Guntur Alting
“Kini saf-saf belakang mulai kehilangan penghuni–Sajadah-sajadah panjang-pun melipat diri.–Hanya tersisa “pasukan elit”
yang setia pada janjinya”- (Ironi Saf)
DALAM diskursus sosial masyarakat kita. Istilah “Saf Maju” telah menjadi satir tahunan yang menyentil fenomena menyusutnya jumlah jamaah masjid seiring berjalannya bulan Ramadhan.
Jika dalam barisan militer, kemajuan barisan berarti ekspansi wilayah. Maka dalam konteks salat Tarawih, majunya saf justru menandakan “gugurnya” sebagian besar pasukan di tengah medan pertempuran spiritual.
Fenomena ini bukan sekadar masalah ruang, melainkan cermin dari dinamika psikologis dan prioritas kolektif kita.
Pada malam-malam awal, masjid berubah menjadi magnet sosial. Ada dorongan kolektif yang kuat—sebuah campuran antara kesalehan murni dan “euforia perayaan”—yang membuat orang-orang berbondong-bondong memenuhi rumah ibadah.
Pada tahap ini, energi spiritual berada di titik puncak. Namun, psikologi manusia cenderung kesulitan mempertahankan intensitas tinggi dalam durasi yang lama.
Apa yang kita saksikan di awal bulan, sering kali adalah *sprinter” yang berlari kencang di awal, namun kehabisan napas sebelum mencapai pertengahan maraton.
–000–
Memasuki fase pertengahan hingga akhir Ramadhan, terjadi pergeseran orientasi yang sangat kontras.
Secara sosiologis, tekanan budaya sering kali mengalahkan panggilan ritual. Persiapan mudik, perburuan baju baru, hingga penyiapan hidangan lebaran mulai menyita ruang pikiran.
Sangat ironis ketika kita melihat bahwa: Sepuluh malam terakhir secara teologis adalah masa keemasan (Lailatul Qadar)—Faktanya, pada masa inilah masjid mencapai titik paling lengang.
Shaf yang maju adalah bukti fisik, bahwa pusat gravitasi perhatian masyarakat telah berpindah dari dimensi vertikal (Tuhan) ke dimensi horizontal (sosial-konsumtif).
–000–
Apa yang kita sebut sebagai gejala “saf maju” ini, bagi saya kita bisa melihatnya dari dua kacamata yang saling melengkapi: Psikologi Perilaku dan Sosiologi Masyarakat.
Pertama, Sudut Pandang Psikologi:
Secamaara psikologis, manusia sangat responsif terhadap sesuatu yang baru atau berulang secara musiman (seperti Ramadan).
1.Efek Kebaruan/Novelty Effect
Kedatangan Ramadan memicu lonjakan hormon dopamin.
Suasana baru, jadwal baru, dan janji spiritual baru menciptakan euforia. Namun, dopamin bersifat sementara.
Ketika rutinitas tarawih yang panjang mulai terasa melelahkan secara fisik, otak mulai mencari kenyamanan lama (istirahat, hiburan, atau tidur).







Komentar