oleh

Sosio-Puasa | Hari Ke-12/13 : ASIDA

Rasa, Budaya, dan Ikatan Saudara di  Kepulauan Rempah

Oleh : M.Guntur Alting

Dalam setiap jengkal tanah Maluku Utara, sejarah tidak hanya tertulis dalam naskah- naskah kuno di Kedaton atau terpahat pada benteng-benteng kolonial.

Sejarah itu hidup, berdenyut, dan dapat dicicipi. Salah satu “arsip sejarah” yang paling autentik muncul setiap bulan Ramadan dalam wujud sepinggan kudapan kenyal berwarna cokelat keemasan yang disebut Asida.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari ke-4/5 : GEMA LANGIT DI ALTAR MODERNITAS

Melalui lensa sosiologi, Asida bukan sekadar takjil pemuas dahaga setelah berpuasa, melainkan sebuah manifestasi dari hibriditas budaya, memori kolektif, dan simbol integrasi sosial masyarakat Moloku Kie Raha.

–000-

Jejak Transnasionalisme

Secara sosiologis, Asida adalah produk dari globalisasi awal.

Akar kuliner ini berasal dari Timur Tengah (Hadramaut), yang dibawa oleh para pedagang dan pendakwah Islam berabad-abad silam.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Namun, Asida di Ternate, Tidore, maupun Jailolo telah mengalami apa yang disebut oleh para sosiolog sebagai indigenisasi atau domestikasi budaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *