– Narasi Tiga Wajah Perang Pasca Wafatnya Khomenei
Oleh : M.Guntur Alting
Langit di atas Teheran pada Maret 2026 tak lagi berwarna biru yang tenang.
Ia telah berubah menjadi kanvas kelabu yang robek oleh jejak asap rudal dan kilatan ledakan yang memekakkan telinga.
Operasi “Epic Fury” yang dilancarkan oleh aliansi Tel-Aviv dan Washington bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah militer.
Ia adalah dentang lonceng kematian yang gema suaranya merambat dari selasar Gedung Putih hingga ke lorong-lorong sempit di pasar Isfahan.
Kematian sang pemimpin tertinggi Iran telah meninggalkan sebuah lubang hitam di jantung kekuasaan Timur-Tengah.
–000–
Dunia baru saja menyaksikan sebuah perjudian geopolitik paling berbahaya dalam sejarah modern.
Dengan tewasnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khomenei dalam operasi militer Amerika-Israel.
Washington dan Teluk bukan sekadar mencabut “akar masalah”, melainkan sedang menyiram bensin ke dalam tungku api yang sudah menyala.
Bagi mereka yang bersorak atas “kemenangan” ini, waspadalah.
Sejarah mengajarkan bahwa kekosongan kekuasaan di Timur-Tengah tidak pernah berakhir dengan demokrasi yang manis, melainkan dengan kekacauan yang brutal.






Komentar