Secara sosiologis, menu sahur juga berfungsi sebagai simbol status.
Kelas atas mengonsumsi makanan yang mencerminkan identitas sosial mereka sebagai kelompok yang “peduli kesehatan” dan “modern”.
Sementara itu, kesederhanaan menu kelas bawah sering kali dianggap sebagai bentuk ketawakalan, padahal di balik itu terdapat keterpaksaan struktural akibat daya beli yang rendah.
–000-
Akhirnya, meskipun puasa secara teologis bertujuan untuk merasakan penderitaan mereka yang lapar, realitas di meja sahur menunjukkan bahwa titik start setiap orang tidaklah sama.
Ketimpangan asupan nutrisi ini pada akhirnya berdampak pada produktivitas dan kualitas kesehatan jangka panjang.
Meja makan sahur bukan hanya tempat untuk mengisi perut, melainkan sebuah cermin retak yang memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara mereka yang makan untuk hidup berkualitas, dan mereka yang makan sekadar agar bisa terus bekerja esok hari. (***)
Cinere 20 Februari 2026
REFERENSI :
Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste –Pukisierre Bourdieu
Distingsi: Kritik Sosial atas Pertimbangan Selera”.
Penerbit :Yayasan Obor Indonesia), cetakan tahun 2011.













Komentar