oleh

SATU LANGIT, DUA INTERPRETASI

Dalam narasi yang lain, jika kita bisa sepakat pada jadwal salat yang 100% menggunakan hitungan astronomis tanpa perlu ada orang yang naik ke menara untuk melihat posisi matahari.

lantas mengapa untuk memulai puasa kita seolah-olah menjadi ragu terhadap sains?

Ini adalah bentuk “skizofrenia intelektual”—memilih sains saat menguntungkan, dan mengabaikannya saat bertabrakan dengan tradisi kelompok.

Eksposisi Ego Komunal

Di media sosial, perbedaan ini bukan lagi ruang diskusi, melainkan ajang pamer kebenaran. “Puasa saya lebih afdal karena melihat hilal,” atau “Puasa saya lebih modern karena pakai hitungan.”

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -10/11 : BEDA RAKAAT, SATU BERKAT

Narasi ini justru menjauhkan kita dari esensi Ramadan yang seharusnya menghancurkan ego, bukan memeliharanya.

Selama pemerintah tidak berani menetapkan Satu Kalender Hijriah Nasional yang mengikat secara hukum—sebagaimana kita menyepakati kalender Masehi—maka kita akan terus merayakan kegaduhan tahunan ini.

Toleransi memang indah, namun ketidakteraturan yang dipelihara atas nama toleransi adalah tanda bahwa kita malas untuk maju.

Sudah saatnya kita berhenti meromantisasi perbedaan ini sebagai “rahmat” dan mulai melihatnya sebagai tantangan intelektual yang harus segera diselesaikan.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari ke-4/5 : GEMA LANGIT DI ALTAR MODERNITAS

Kedewasaan beragama tidak hanya diukur dari seberapa sabar kita menunggu keputusan pemerintah, tetapi dari seberapa berani kita menanggalkan ego kelompok demi keteraturan publik yang lebih bermartabat.

Jika kita bisa sepakat pada satu bendera dan satu bahasa, mengapa urusan memulai lapar dan dahaga harus terus terpecah dalam dua atau tiga hari yang berbeda?

–000–

Mungkin, hikmah terbesar dari perbedaan satu atau dua hari ini bukanlah tentang siapa yang paling akurat, melainkan pada akhirnya dengan sangat terpaksa tentang seberapa lapang hati kita.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Ramadan dimulai dengan ujian pertama yang bukan tentang menahan lapar, melainkan menahan diri dari merasa paling benar.

Pada akhirnya, di bawah langit yang sama, entah esok atau lusa kita mulai berpuasa, tujuannya tetap mengerucut pada satu titik: kembali menjadi manusia yang lebih bertakwa.
Wallahu’alam (***)

Pejaten Barat, 17 Februari 2026
Pukul : 20.10

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *