–000–
Dari ‘Space of Places menuju Space of Flows’
Inti dari transformasi ini adalah peralihan dari ‘Space of Places’ (Ruang Tempat) menuju ‘Space of Flows’ (Ruang Aliran).
Secara tradisional, interaksi sosial di Ternate, Tidore, hingga Halmahera sangat bergantung pada kedekatan fisik dan mobilitas laut yang memakan waktu serta biaya tinggi.
Namun, digitalisasi telah menciptakan “ruang aliran” di mana informasi, modal, dan citra budaya bergerak melintasi gugusan pulau hampir seketika.
Hal ini menciptakan apa yang disebut Castells sebagai “timeless time” (waktu tanpa waktu). Komunikasi antara petani cengkih di pelosok Patani dengan eksportir di Ternate atau Surabaya kini terjadi secara real-time melalui platform digital.
Fenomena ini memangkas birokrasi ruang dan hambatan logistik yang selama ini menjadi kendala kronis pembangunan di wilayah kepulauan, sekaligus mengubah cara masyarakat memaknai jarak.
–000–
Stratifikasi Baru dan Eksklusi Digital
Namun, integrasi ke dalam masyarakat jaringan ini memicu tantangan sosiologis yang serius, yaitu eksklusi digital.
Castells memperingatkan bahwa dalam network society, individu atau kelompok yang tidak terhubung ke dalam jaringan akan dianggap “tidak ada” secara fungsional dalam sistem global.
Di Maluku Utara, kesenjangan digital (digital divide) bukan sekadar masalah teknis infrastruktur, melainkan bentuk stratifikasi sosial baru.
Masyarakat di wilayah ‘blank spot’ menghadapi risiko peminggiran ekonomi dan politik yang terstruktur. Ketidakmampuan mengakses aliran informasi menyebabkan mereka terisolasi dari proses pengambilan keputusan dan distribusi kesejahteraan.
Dalam konteks ini, akses internet telah bergeser dari sekadar fasilitas menjadi determinan utama kekuasaan (power) dalam struktur sosial kontemporer Maluku Utara.
–000–
Negosiasi Identitas dan Perlawanan Budaya













Komentar