Di sisi lain, aspek identitas menunjukkan dinamika yang kompleks. Mengacu pada konsep ‘Identity of Resistance’ dari Castells, masyarakat lokal tidak sekadar menjadi konsumen pasif budaya global.
Sebaliknya, mereka menggunakan jaringan digital untuk melawan homogenitas budaya.
Penggunaan media sosial untuk mengamplifikasi narasi sejarah Kesultanan, revitalisasi bahasa daerah, hingga promosi pariwisata berbasis kearifan lokal merupakan bentuk pertahanan identitas di tengah arus globalisasi.
Teknologi digital tidak serta-merta melenyapkan nilai-nilai primordial; ia justru menjadi alat baru bagi masyarakat Maluku Utara untuk menegosiasikan posisi mereka dalam konstelasi global.
Identitas lokal kini dikonstruksi ulang melalui medium digital untuk menunjukkan eksistensi yang lebih luas dan berdaya tawar.
–000–
Menuju “Pelabuhan Digital” yang Inklusif
Akhirnya, sosiologi digital di Maluku Utara menunjukkan bahwa teknologi telah mengubah arsitektur sosial masyarakat kepulauan secara fundamental.
Maluku Utara kini bukan lagi entitas yang terisolasi, melainkan bagian dari ekosistem global yang cair.
Tantangan utamanya kini bukan hanya membangun pelabuhan fisik untuk konektivitas kapal, melainkan membangun “pelabuhan digital” yang inklusif.
Hanya melalui literasi digital yang kritis dan aksesibilitas yang merata, potensi network society ini dapat memperkuat kohesi sosial dan kedaulatan budaya.
Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, transformasi ini justru berisiko menciptakan fragmentasi sosial baru yang lebih dalam di antara mereka yang “terhubung” dan mereka yang “terputus”. (***)
Pejaten, 2 Maret 2026
Pukul : 19.00
Referensi :
1. Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society: The Information Age: Economy, Society, and Culture (Vol. 1).
2. Lupton, D. (2015). Digital Sociology. Routledge.







Komentar