Hari ini, saat Anda berjalan di antara deretan penjual kue-kue tradisional di sore hari, atau saat Anda merasakan suasana kantor yang lebih tenang, renungkanlah satu hal:
Ruang publik kita sedang berbicara. Ia mengatakan bahwa “kita adalah mahluk sosial yang butuh jeda dari rutinitas duniawi.”
Persoalannya, apakah perubahan wajah kota ini juga diikuti dengan perubahan wajah batin kita?
Ataukah kita hanya sedang ikut dalam sandiwara sosial tahunan, di mana kita hanya menjadi religius karena lingkungan memaksa kita untuk tampak demikian?
–000–
Akhirnya, dengan kata lain: perubahan wajah publik selama Ramadan adalah bukti bahwa agama tetap menjadi variabel determinan dalam struktur sosial kita.
Ruang publik bukan sekadar beton dan aspal, melainkan arena di mana nilai-nilai iman dipraktikkan, dinegosiasikan, dan dipertontonkan.
Tantangan bagi kita adalah: apakah desekularisasi ruang ini hanya akan berhenti pada simbolisme permukaan, ataukah ia mampu melahirkan etika publik baru yang lebih jujur dan berkeadilan setelah Ramadan berlalu? (***)
Jakarta, 18 Februuari 2026
REFERENSI :
1 Langit Suci -The Sacred Canopy : Elements of a Sociological Theory of Religion Doubleday.1967













Komentar