Meminjam pemikiran Jean Baudrillard, kita seringkali terjebak dalam simulakra.
Terkadang, citra tentang Ramadan di media sosial terasa “lebih nyata” daripada pengalaman Ramadan itu sendiri.
Semisal, kehangatan buka puasa bersama yang diunggah ke Instagram mungkin tampak sempurna dengan tawa yang tertangkap kamera. Padahal di realitasnya, setiap orang di meja tersebut lebih sibuk berinteraksi dengan ponsel masing-masing.
Di sini, hiperrealitas tercipta. Kita lebih mencintai citra kebersamaan yang kita unggah daripada kebersamaan itu sendiri.
Pergeseran Otoritas Keagamaan
Media sosial juga mendemokratisasi, sekaligus mendisrupsi—otoritas keagamaan.
Dulu, sumber ilmu adalah kiai atau ulama di pesantren. Kini, algoritma berperan sebagai penentu pesan keagamaan apa yang sampai ke gawai kita.
Sosiologi melihat adanya pergeseran dari otoritas tradisional ke otoritas karismatik digital, di mana “kebenaran” agama seringkali diukur dari jumlah pengikut atau gaya penyampaian yang “relatable” dengan budaya pop.
–000–
Ramadhan di era media sosial adalah sebuah medan dialektika. Di satu sisi, teknologi mempermudah syiar dan memperluas jangkauan solidaritas global.
Namun di sisi lain, ia menantang kita untuk tetap menjaga otentisitas spiritual di tengah tekanan untuk terus tampil secara visual.
Tantangan sosiologis kita hari ini adalah bagaimana tetap “hadir” secara batin di saat kita secara digital terus-menerus “terkoneksi”
Wallahu a’lam (***)
Pejaten Barat, Senin, 23 Februari 2026
Pukul : 01.10













Komentar