oleh

Sosio-Puasa | Hari : 5/6 : DARI ALGORITMA LANGIT KE ALGORITMA DIGITAL

Meminjam pemikiran Jean Baudrillard, kita seringkali terjebak dalam simulakra.

Terkadang, citra tentang Ramadan di media sosial terasa “lebih nyata” daripada pengalaman Ramadan itu sendiri.

Semisal, kehangatan buka puasa bersama yang diunggah ke Instagram mungkin tampak sempurna dengan tawa yang tertangkap kamera. Padahal di realitasnya, setiap orang di meja tersebut lebih sibuk berinteraksi dengan ponsel masing-masing.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Di sini, hiperrealitas tercipta. Kita lebih mencintai citra kebersamaan yang kita unggah daripada kebersamaan itu sendiri.

Pergeseran Otoritas Keagamaan

Media sosial juga mendemokratisasi, sekaligus mendisrupsi—otoritas keagamaan.

Dulu, sumber ilmu adalah kiai atau ulama di pesantren. Kini, algoritma berperan sebagai penentu pesan keagamaan apa yang sampai ke gawai kita.

Sosiologi melihat adanya pergeseran dari otoritas tradisional ke otoritas karismatik digital, di mana “kebenaran” agama seringkali diukur dari jumlah pengikut atau gaya penyampaian yang “relatable” dengan budaya pop.

Baca Juga  SATU LANGIT, DUA INTERPRETASI

–000–

Ramadhan di era media sosial adalah sebuah medan dialektika. Di satu sisi, teknologi mempermudah syiar dan memperluas jangkauan solidaritas global.

Namun di sisi lain, ia menantang kita untuk tetap menjaga otentisitas spiritual di tengah tekanan untuk terus tampil secara visual.

Tantangan sosiologis kita hari ini adalah bagaimana tetap “hadir” secara batin di saat kita secara digital terus-menerus “terkoneksi”
Wallahu a’lam (***)

Baca Juga  Sosio- Puasa | Hari -13/14 : MENJAHIT PULAU DENGAN CAHAYA SINYAL

Pejaten Barat, Senin, 23 Februari 2026
Pukul : 01.10

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *