oleh

Sosio-Puasa | Hari Ke- 6/7 : MENELAN PAHIT DI NEGERI REMPAH

–000–

Langkah pertama harus dimulai dari tangan pemerintah yang tegas.

Di tengah badai harga, kehadiran negara tidak boleh hanya sekadar seremoni pasar murah yang habis dalam sekejap.

Harus ada intervensi nyata melalui subsidi transportasi. Bayangkan jika pemerintah menjamin biaya angkut logistik dari pelabuhan asal, maka beban yang dipikul para pedagang akan berkurang, dan harga di meja pasar tak perlu lagi mencekik leher rakyat.

Inilah jembatan pendek untuk menyeberangi krisis yang mendesak.

Namun, kita tidak bisa terus-menerus bergantung pada belas kasihan cuaca dan kepastian kapal dari seberang lautan.

Baca Juga  RUBRIK SOSIO — PUASA : MEMBACA DENYUT MASYARAKAT DALAM LENSA SOSIOLOGI-AGAMA

Sudah saatnya Maluku Utara berhenti menengadah dan mulai menunduk ke tanahnya sendiri.

Halmahera, dengan hamparan buminya yang subur, adalah raksasa tidur yang harus dibangunkan. Transformasi dari daerah pengimpor menjadi daerah produsen bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

Membangun “lumbung pangan” di daratan Halmahera bukan hanya soal menanam cabai atau tomat, tapi soal menanam kedaulatan.

–000–

Kita juga memerlukan teknologi sebagai penjaga. Di daerah kepulauan ini, musuh utama kita adalah waktu dan pembusukan.

Pembangunan gudang-gudang pendingin (cold storage) di setiap pelabuhan utama akan menjadi “benteng” yang menjaga stok tetap aman saat gelombang laut meninggi.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL -- Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Dengan cadangan yang terjaga, para spekulan tak akan lagi punya celah untuk memainkan nasib perut orang banyak.

Lebih jauh lagi, ada kekuatan besar yang selama ini terabaikan yakni sinergi.

Perusahaan-perusahaan tambang yang mengeruk kekayaan nikel di bumi Maluku Utara harus diajak—atau dipaksa melalui regulasi—untuk menghidupkan sektor pertanian.

Jika katering ribuan karyawan tambang bersumber dari petani lokal di sekitarnya, maka ekonomi akan berputar di rumah kita sendiri, bukan mengalir keluar.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari -17/18 : DARI AYAT KE AKSI

–000–

Pada akhirnya, solusi ini adalah sebuah simfoni atau nyanyia, Ia membutuhkan ketegasan pengawasan untuk membasmi penimbun.

Kecerdasan petani untuk mengolah lahan, dan kemauan politik untuk membangun infrastruktur.

Jika langkah-langkah ini dijalankan dengan hati, maka Ramadan di masa depan tak lagi menjadi horor atau teror harga yang menghantui, melainkan benar-benar menjadi bulan kemenangan.

Kemenangan spiritual bagi jiwa, dan kemenangan kedaulatan bagi meja makan setiap keluarga di Maluku Utara, Wallahu A’lam (***)

Pejaten, Selasa 24 Februari 2026
Pukul : 01.10

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *