oleh

Sosio-Puasa | Hari ke-1/2 : KEMBALINYA TUHAN Di RUANG PUBLIK

Ruang publik yang tadinya hanya tempat mencari materi, berubah menjadi ruang pelatihan moralitas kolektif.

–000–

Tapi, di balik keteduhan ini, sosiologi juga mencatat adanya ‘Negosiasi Ruang.’

Lihatlah bagaimana trotoar yang biasanya menjadi jalur pejalan kaki, menjelang sore berubah menjadi pasar takjil yang riuh.

Di sini, terjadi pertautan antara identitas religius dan ekonomi bertahan hidup.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke- 6/7 : MENELAN PAHIT DI NEGERI REMPAH

Ruang publik yang terbatas harus dibagi antara hak pejalan kaki dan hak pedagang musiman yang mencari berkah Ramadan.

Ini bukan sekadar urusan jual-beli, melainkan bentuk solidaritas ekonomi yang hanya muncul setahun sekali.

–000–

Di Maluku Utara, desekularisasi ini terasa sangat kental karena prinsip Adat Se Atoran.

Agama Islam bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan struktur yang membentuk tata kota dan perilaku publik.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari-16/17 : SUJUD DI BAWAH LANGIT YANG MEMBARA

Ramadan menjadi momen di mana “identitas kolektif” kita sebagai masyarakat yang religius ditampilkan secara gamblang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *