Ruang publik yang tadinya hanya tempat mencari materi, berubah menjadi ruang pelatihan moralitas kolektif.
–000–
Tapi, di balik keteduhan ini, sosiologi juga mencatat adanya ‘Negosiasi Ruang.’
Lihatlah bagaimana trotoar yang biasanya menjadi jalur pejalan kaki, menjelang sore berubah menjadi pasar takjil yang riuh.
Di sini, terjadi pertautan antara identitas religius dan ekonomi bertahan hidup.
Ruang publik yang terbatas harus dibagi antara hak pejalan kaki dan hak pedagang musiman yang mencari berkah Ramadan.
Ini bukan sekadar urusan jual-beli, melainkan bentuk solidaritas ekonomi yang hanya muncul setahun sekali.
–000–
Di Maluku Utara, desekularisasi ini terasa sangat kental karena prinsip Adat Se Atoran.
Agama Islam bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan struktur yang membentuk tata kota dan perilaku publik.
Ramadan menjadi momen di mana “identitas kolektif” kita sebagai masyarakat yang religius ditampilkan secara gamblang.












Komentar