Ramadan, secara tradisional, dipahami sebagai momentum “asketisme”—sebuah periode di mana individu menarik diri dari hiruk-pikuk duniawi untuk menuju kedalaman spiritual.
Namun, di bawah dominasi teknologi informasi, esensi “penarikan diri” tersebut mengalami paradoks.
Sosiologi melihat bahwa Ramadan kini tidak lagi sekadar ritual teologis, melainkan telah bertransformasi menjadi fenomena sosiokultural digital.
Dramaturgi Kesalehan: Panggung Depan yang Estetis
Mengacu pada teori Dramaturgi Erving Goffman, media sosial telah menjadi “panggung depan” (front stage) yang paling dominan bagi umat Muslim modern.
Di panggung ini, individu melakukan manajemen impresi dengan sangat rapi.
Konten mengenai kegiatan sedekah, foto aesthetic saat tadarus, hingga dokumentasi buka bersama bukan sekadar berbagi informasi, melainkan upaya pembangunan identitas religius.
Ada tuntutan sosial untuk terlihat shaleh secara visual, yang terkadang membuat substansi ibadah itu sendiri tergeser oleh upaya mengurasi konten agar sesuai dengan standar estetika platform.
Komodifikasi Agama dalam Ruang Konsumsi
Secara sosiologis, Ramadan di media sosial juga mencerminkan kapitalisme lanjut.
Simbol-simbol agama mengalami komodifikasi; agama tidak lagi hanya dipraktikkan, tetapi juga “dikonsumsi”.
Para influencer dan brand memanfaatkan momentum ini untuk menciptakan tren, mulai dari gaya hijab hingga menu takjil yang viral.
Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai Komunitas Imajer, di mana rasa kebersamaan umat tidak lagi dibangun di atas interaksi fisik di masjid, melainkan melalui konsumsi simbol-simbol yang sama di lini masa.
Simulakra: Antara Realitas dan Citra













Komentar