Bagi mereka, rasa adalah identitas. Mengonsumsi kuliner lokal adalah ritual untuk mempertahankan “kehormatan sosial” sebagai anak cucu Sultan yang tak ingin jati dirinya hanyut ditelan arus zaman.
Medan Tempur Materi dan Makna
Di antara hiruk-pikuk klakson motor di depan Masjid Raya dan antrean takjil di Landmark.
Kita sebenarnya sedang menyaksikan tarik-menarik antara keinginan untuk bertahan hidup secara ekonomi (Marx) dan keinginan untuk tetap bermakna secara kultural (Weber).
–000–
Pada akhirnya, keriuhan kuliner Ramadan di Maluku Utara adalah medan tempur antara materi dan makna.
Jika Marx memperingatkan kita akan bahaya komodifikasi agama yang mempertegas sekat kelas.
Maka Weber memberikan secercah harapan melalui kekuatan identitas.
Meja buka puasa di Ternate hingga Tidore bukan sekadar tempat pemuasan lapar (materialisme), melainkan ruang di mana nilai, etika, dan kehormatan kultural dipertaruhkan demi menjaga kohesi sosial yang tetap berakar pada kearifan lokal.
Di balik manisnya sepotong takjil, ada struktur sosial yang sedang berupaya tetap kokoh di tengah arus modernitas. (**)
Kebayoran Baru, 28 Februari 2028
Pukul : 21.30S













Komentar