oleh

AKAL SEHAT DI BAWAH ATAP ISTANA


Di panggung itu, batas antara lawan dan kawan bisa bergeser hanya dalam hitungan detik ketika arah angin kepentingan menemukan titik temunya.

Idealism yang melayang tinggi di udara sering kali harus mendarat tajam saat berhadapan dengan realitas praktis kekuasaan.

​Di situlah Aristoteles memberi kita pegangan yang sangat berharga. Ia mengingatkan agar kita mencintai kebenaran melebihi rasa cinta kita kepada sahabat atau sosok idola.

Baca Juga  TABIR BELLA 72 YANG TAK KUNJUNG TERBUKA — Mengapa Gubernur Sherly Tjoanda Permisif ? — Oleh: Muslim Arbi - Pengamat Politik

Ketika kita menggantungkan standar moral dan kebenaran pada figur seorang manusia, kita sedang membiarkan diri kita berjalan di atas lantai kaca yang rentan retak.

-000-

​Ada beberapa poin renungan menarik dari peristiwa ini:

*​Panggung Bebas vs Lorong Kekuasaan

Di luar sistem, seorang kritikus menikmati kemerdekaan penuh untuk berbicara tanpa beban protokoler.

Baca Juga  DEMOKRASI OLIGARKI PEMILIHAN LANGSUNG — DARI ELITE OLEH ELITE DAN UNTUK ELITE

Di dalam Wantimpres, masukan disampaikan di balik pintu tertutup. Pertanyaannya: apakah ketajaman nalar itu tetap tajam saat berubah menjadi bisikan nasihat, ataukah ia perlahan melembut menyesuaikan irama istana?

*​Pelajaran Dekultusasi Intelektual

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *