Oleh: M. Guntur Alting
Kabar duka itu datang merayap di garis waktu. Pada malam sunyi di awal 1 Oktober 2026. Drs.H.Achmad Mahifa mengembuskan napas terakhir.
Mantan Wali Kota Tidore Kepulauan yang memimpin selama dua periode (2005–2015) itu tutup usia pada 80 tahun.
Secara personal, saya memiliki sejumlah kenangan dengan almarhum yang dikenal sebagai “Sang Lelaki dari Tidore ini.
Dari saat dua kali umrah dan sekali musim haji, dan juga beberapa kali memenuhi undangan ceramah PHBI di masa kepemimpinan beliau.
-000-
Bagi orang-orang di luar Maluku Utara, nama Achmad Mahifa mungkin terdengar seperti barisan nama pejabat daerah lainnya dalam daftar panjang birokrasi Indonesia.
Namun bagi siapa pun yang pernah menyeberangi Selat Bastiong menuju Pelabuhan Rum, lalu memandang puncak Gunung Marijang yang selalu diselimuti awan tipis, nama itu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan publik Tidore.
Ada sesuatu yang menarik dari jejak perjalanan hidupnya.
Mahifa bukanlah potret politisi yang lahir dari rahim panggung yang bising atau pusaran kapital yang berlimpah.
Ia adalah anak zaman yang dibentuk oleh Gurabunga—sebuah desa di pinggang Gunung Kie Matubu yang letaknya tinggi di atas permukaan laut.









Komentar