oleh

SELAMAT JALAN BAPAK


Oleh : M.Guntur Alting

​KEMATIAN, pada akhirnya, adalah sebuah urusan yang personal sekaligus puitis. Ia datang tanpa ketukan keras, kadang hanya berupa helaan napas terakhir di balik dinding Rumah Sakit.

Namun ketika yang berpulang adalah seorang Lelaki Tidore bernama Achmad Mahifa—seorang yang pernah sepuluh tahun memangku jabatan Wali Kota Tidore Kepulauan—kematian itu mendadak jadi sebuah fragmen sejarah yang meminta kita berhenti sejenak.

Baca Juga  MENAKAR "ISLAM ALA PRABOWO" DENGAN NALAR YANG JERNIH

​Kita sering membayangkan kekuasaan sebagai panggung yang bising: deretan mobil dinas, barisan protokol, dan kilatan lampu kamera yang rakus.

Tapi ada jenis kekuasaan yang tumbuh berbeda, tumbuh dari tempat yang jauh dari keriuhan itu.

​Mahifa lahir dan dibentuk oleh Gurabunga.

Bagi siapa pun yang pernah mendaki lereng Gunung Kie Matubu, Gurabunga bukanlah sekadar titik di peta administrasi.

Baca Juga  Gaya Komunikasi Politik Syukur Mandar — Oleh : Yusuf Hasani : Direktur Maluku Utara Government Watch

Ia adalah tanah tinggi di mana kabut tebal kerap kali turun merayap, membungkus rumah-rumah kayu dan menyembunyikan masa lalu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *