oleh

AKAL SEHAT DI BAWAH ATAP ISTANA


Lakon perpolitikan ini mendidik publik agar tidak pernah mengkultuskan siapa pun. Nalar kritis tidak boleh bergantung pada siapa yang bicara, melainkan pada apa substansi yang dibicarakan.

Ketika sang idola melangkah ke dalam lingkar kekuasaan, publiklah yang harus tetap memelihara akal sehat di luar.

*​Kedewasaan Berpikir di Ruang Publik

Baca Juga  Anomali Paradoks Hilirisasi: Menagih Porsi Keadilan Ekologis dan Monetisasi Infrastruktur Maluku Utara

Melihat transformasi seorang figur publik menjadi bagian dari sistem kekuasaan tak perlu membuat kita pesimis. Justru, ini adalah panggilan untuk menjadi pemikir yang lebih matang.

Belajar memahami dinamika kekuasaan adalah proses sepanjang hayat agar kita tak gampang terperdaya oleh ilusi persona.

​Pada akhirnya, panggung politik memang selalu punya caranya sendiri untuk mengejutkan kita. Apakah langkah ini akan menjadi babak baru tempat “akal sehat” mewarnai kebijakan dari dalam, atau sekadar membuktikan bahwa gravitasi kekuasaan selalu lebih kuat dari retorika?

Baca Juga  MK Harus Berani Anulir Putusan Nomor 90 — Oleh: Muslim Arbi/Direktur Gerakan Perubahan Indonesia

Waktu dan sejarah yang akan mencatatnya.

​Satu yang pasti

Kebenaran tak pernah butuh kantor di Istana. Ia selalu tinggal di hati orang-orang yang terus merawat akal sehat dan daya kritisnya secara independen.(***)

Ciputat, 3 Oktober 2026
Pukul: 06:28

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *