Di panggung itu, batas antara lawan dan kawan bisa bergeser hanya dalam hitungan detik ketika arah angin kepentingan menemukan titik temunya.
Idealism yang melayang tinggi di udara sering kali harus mendarat tajam saat berhadapan dengan realitas praktis kekuasaan.
Di situlah Aristoteles memberi kita pegangan yang sangat berharga. Ia mengingatkan agar kita mencintai kebenaran melebihi rasa cinta kita kepada sahabat atau sosok idola.
Ketika kita menggantungkan standar moral dan kebenaran pada figur seorang manusia, kita sedang membiarkan diri kita berjalan di atas lantai kaca yang rentan retak.
-000-
Ada beberapa poin renungan menarik dari peristiwa ini:
*Panggung Bebas vs Lorong Kekuasaan
Di luar sistem, seorang kritikus menikmati kemerdekaan penuh untuk berbicara tanpa beban protokoler.
Di dalam Wantimpres, masukan disampaikan di balik pintu tertutup. Pertanyaannya: apakah ketajaman nalar itu tetap tajam saat berubah menjadi bisikan nasihat, ataukah ia perlahan melembut menyesuaikan irama istana?
*Pelajaran Dekultusasi Intelektual








Komentar