Oleh : Dr.Sofyan Abas /Ekonom UMMU Ternate
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah gambaran paling sahih tentang nasib rakyat Maluku Utara hari ini.
Rakyat Malut sedang mengalami dua pukulan sekaligus. Dari atas, dicekik oleh kebijakan efisiensi pemerintah pusat. Dari bawah, ditampar oleh monopoli proyek di daerah.
Pertama, Cekikan dari Pusat.
Kebijakan efisiensi yang dilakukan pemerintah pusat bukan sekadar angka di atas kertas APBN. Dampaknya mencekik langsung kantong Aparatur Sipil Negara (ASN) dan berimbas pada dapur rakyat.
Ketika pemerintah daerah menyikapi efisiensi dengan diskon Tunjangan Tambahan Penghasilan (TTP), pemotongan belanja rutin, dan pengetatan perjalanan dinas, maka yang terjadi adalah pelemahan daya beli secara sistematis.
ASN adalah pangsa pasar potensial terbesar di Ternate, di Sofifi, di Tidore. Ketika kemampuan akselerasi belanja ASN melemah, warung sepi, ojek sepi, UMKM sepi. Dinamika pasar ikut melemah. Uang tidak berputar.
Pusat mengetatkan ikat pinggang, daerah yang sesak napas, rakyat yang “lapar”.
Kedua, Tamparan Monopoli dari Daerah.









Komentar