“Tiba-tiba muncul ide gila kita ”
Daripada Sembunyi-Sembunyi, Kenapa Tarif Sel Mewah Tak Diresmikan Saja?”- (Nitizen)
—
HUKUM, pada mulanya, adalah janji tentang sebuah garis lurus yang digambar di atas tanah yang tak rata, bagi siapa saja yang melangkah di atasnya.
Namun di sebuah sudut di Cibinong—di antara dinding beton yang lembap dan sisa hujan yang tertahan di dedaunan—garis itu telah lama melengkung, membusur, dan akhirnya patah.
Kita mengenal penjara sebagai sebuah tempat di mana waktu dibekukan dan kemerdekaan dirampas.
Meminjam istilah “panopticon,” dari Michel Foucault, adalah sebuah mesin yang bekerja melalui mata yang tak terlihat: sebuah menara di tengah yang mengawasi setiap gerak, meremukkan kehendak, dan memaksa tubuh untuk patuh.
Di sana, kesunyian adalah hukuman, dan dinding adalah pembatas antara yang bernoda dan yang bersih.
Namun, di dalam kamar-kamar tersembunyi itu, menara pengawas itu rupanya telah buta—atau sengaja memejamkan mata.
Di satu sel yang sempit dan pengap, beberapa puluh tubuh berdesakan seperti barang cetakan yang ditumpuk terburu-buru. Bau keringat, kecemasan, dan nasi dingin bersatu dalam udara yang lesu.
Di sana, seorang lelaki tua yang mencuri sebatang kayu atau pemuda yang tertangkap memegang dompet orang lain belajar mengeja arti penyesalan melalui rasa sakit di persendiannya.
Bagi mereka, penjara adalah sebuah katarsis yang keras. Hukum hadir sebagai tangan dingin yang mencengkeram leher mereka setiap malam.









Komentar