oleh

Jika RJ Bela 72 Cacat Hukum, Ahli: Tidak Hanya Korban yang Bisa Cabut, Kejaksaan Wajib Batalkan

-HEADLINE, HUKUM-78 Dilihat

Pintu pertama, dicabut oleh korban. Ini yang paling relevan dengan kasus Bela 72 saat ini. Korban dan keluarga korban berhak mencabut pemaafan jika janji ganti rugi tidak ditepati, ada unsur tipu daya atau janji manis saat penandatanganan.

“Berdasarkan keterangan jaksa fasilitator, RJ digelar karena janji manis. Jika janji itu palsu, maka syarat materiil RJ dalam Pasal 5 Perja 15/2020 gugur. Penuntutan harus dilanjutkan,” tegasnya.

Baca Juga  Muslim Arbi: Amandemen UUD 1945 Jadi Jalan Lahirnya Politik Dinasti, Model Presiden-Wapres Bapak-Anak

Pintu kedua, dicabut oleh Kejaksaan sendiri karena cacat yuridis. Inilah yang membuat RJ Bela 72 dinilai sebagai bom waktu.

Pasal yang disangkakan kepada Rahmat, nakhoda Bela 72, adalah Pasal 359 KUHP tentang kelalaian menyebabkan mati dan Pasal 188 KUHP. Kasus ini menyebabkan 6 orang meninggal dan puluhan luka bakar dan patah tulang.

Baca Juga  RJ KASUS BELLA 72 SEMAKIN MEMANAS, BEDA VERSI KEJATI MALUT VERSUS KORBAN

Padahal syarat RJ hanya untuk tindak pidana dengan ancaman di bawah 5 tahun dan kerugian tidak besar. Kasus dengan 6 nyawa melayang jelas tidak memenuhi syarat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *